Infobanyuwangi.co.id - Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) mendorong peningkatan daya saing UMKM Tahu Kita di Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi, melalui penerapan digital marketing dan teknologi kompor seribu titik.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut menggabungkan penguatan pemasaran digital dengan inovasi teknologi produksi.
Langkah ini dilakukan untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi tahu.
Kegiatan bertema Implementasi Strategi Digital Marketing dan Teknologi Kompor Seribu Titik untuk Peningkatan Peluang Penjualan dan Efisiensi Produksi pada UMKM Tahu Kita Desa Gitik itu melibatkan tiga dosen Poliwangi.
Mereka yakni Eka Novita Sari, S.Kom., M.Kom., Alfin Hidayat, S.T., M.T., dan Subono, S.T., M.T. Tim melakukan survei kondisi mitra, analisis pemasaran, pengembangan teknologi, pembuatan konten digital, hingga pendampingan di lokasi produksi.
Ketua tim pengabdian, Eka Novita Sari mengatakan program dirancang berdasarkan kebutuhan UMKM Tahu Kita, baik dari sisi produksi maupun pemasaran.
”Pada sektor produksi, tim menerapkan teknologi kompor seribu titik yang dilengkapi sistem deteksi kebocoran gas. Teknologi tersebut menggunakan sensor untuk memantau konsentrasi gas LPG di sekitar area kompor secara kontinu,” terangnya.

Ketika konsentrasi gas terdeteksi melampaui ambang batas, sistem memberikan peringatan dini melalui indikator visual. Dengan begitu, operator dapat segera melakukan langkah pengamanan untuk mencegah risiko kebocoran gas.
Sebelum diserahkan kepada mitra, tim Poliwangi terlebih dahulu menguji fungsi kompor, kestabilan nyala api, serta respons sensor terhadap kondisi yang mengindikasikan kebocoran gas.
”Mitra juga mendapat pelatihan mengenai pengoperasian dan pemeliharaan teknologi, termasuk prosedur yang perlu dilakukan ketika sistem memberikan peringatan,” ungkapnya.
Sementara dari sisi pemasaran, tim menemukan UMKM Tahu Kita sebelumnya belum memanfaatkan media sosial dan marketplace secara optimal sebagai sarana promosi dan penjualan.
Kondisi tersebut membuat pemasaran produk masih bergantung pada pelanggan yang sudah ada. Tim kemudian membantu mitra menerapkan strategi digital marketing melalui pembuatan foto produk, video singkat, poster digital, serta caption promosi.
”Melalui digital marketing, kami ingin membantu mitra memiliki media promosi yang lebih menarik dan mampu menjangkau konsumen di luar pelanggan yang selama ini sudah dimiliki,” beber Eka.
Menurut dia, keberlanjutan program juga menjadi perhatian tim. Mitra diharapkan mampu mengelola konten dan platform digital secara mandiri setelah pendampingan berakhir.

Setelah melalui tahapan pengujian dan pelatihan, teknologi kompor seribu titik berbasis sistem deteksi kebocoran gas kemudian diserahterimakan kepada UMKM Tahu Kita untuk digunakan dalam kegiatan produksi.
Pemilik UMKM Tahu Kita, Badrun, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Poliwangi. Menurutnya, penerapan teknologi dan pendampingan pemasaran memberikan pengetahuan baru untuk mengembangkan usahanya.
“Kami berterima kasih atas pendampingan dari Poliwangi. Teknologi dan pemasaran digital ini memberikan pengetahuan baru bagi kami untuk mengembangkan usaha,” kata Badrun.
Badrun berharap pendampingan tersebut dapat membantu UMKM Tahu Kita meningkatkan pemasaran sekaligus membuat proses produksi lebih baik.
“Kami berharap teknologi yang diberikan bisa membantu produksi dan pemasaran tahu menjadi lebih berkembang,” ujarnya.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Poliwangi memberdayakan UMKM melalui pemanfaatan teknologi dan transformasi digital. Integrasi inovasi produksi dan pemasaran digital diharapkan mampu memperluas pasar serta meningkatkan daya saing Tahu Kita.
Poliwangi juga berharap model pendampingan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat. (*)